twitter

Sehari kemarin saya mendapat dua berita kematian yang terjadi secara mendadak. Yang pertama, seorang tetangga yang sedang mempersiapkan bubur yang biasa dia jual sehari-hari. Bubur yang dibuatnya pada waktu subuh bahkan belum sempat dijual, tiba² dia merasa sesak dan tak lama kemudian meninggal. Satu lagi, seorang tukang parkir yang sejak bulan Ramadhan belum pernah saya lihat lagi. Ketika saya tanya ke tukang parkir lain, katanya bapak itu meninggal sewaktu akan berangkat dari rumahnya karena pecah pembuluh darah.

Ditambah lagi ketika solat jum'at, sang khotib mengingatkan mengenai kewajiban seorang muslim apabila ada sesamanya yg meninggal. Dari mulai melayat, mendo'akan, memandikan, mensolatkan, dan mengantarkannya ke pemakaman, serta memberikan semangat kepada orang yang ditinggalkannya.

Hanya bisa bersyukur karena Allah begitu saya sayangnya kepada saya, saya bisa merasakann sentuhan-Nya sampai tiga kali mengingatkan saya tentang kematian. Begitu dekatnya kematian sampai² manusia tidak akan bisa mengetaui kapan kita meninggal.

Tapi bagi saya mengingat kematian bukan malah menjadi saya patah semangat, was² dan terus mengurung diri. Justru mengingat kematian menjadi sebuah dorongan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah saya. Menjadi orang yang lebih berguna lagi terhadap sesama, jangan sampai mati saya lebih baik dari pada hidupnya.
18 September 2010 | 0 komentar |
Malam ini serasa begitu khidmat. Tidak ada baju baru, baju koko pun masih yang saya beli dua tahun lalu. Tidak ada sarung baru, masih pakai pemberian Bapak tiga tahun lalu. Tidak ada peci baru, masih pakai pemberian ibu 7 tahun lalu. Tidak ada sendal baru, masih yang saya beli empat tahun lalu. Adapun yang terbaru adalah sebuah sajadah yang memang saya beli dua bulan lalu karena memang saya membutuhkannya agar mudah dibawa di perjalanan. Tidak ada yang baru tapi semuanya masih yang terbaik, sesuai dengan apa yang disunahkan oleh Rasul SAW.

Semua orang tampak bahagia di malam Lebaran ini. Wajah² sumringah dengan mudah saya temui di setiap orang yang saya jumpai. Gema takbir tak henti² berkumandang, dari mesjid yang terdekat, sayup² dari kejauhan, dan juga dari mp3, membuat hati bersemangat.

SAda suatu semangat, bahagia, tulus, ikhlas, syukur, iman, yang berbeda pada malam Lebaran, yang tidak akan bisa didapat di waktu² lainnya. Semuanya terasa sederhana, tentram, dan indah.

Taqaballalahuminnawa min kum siyamanna wasiya makum.
Minal aidin wal fa idzin.
Selamat Idul Fitri 1431 H
09 September 2010 | 0 komentar |

Tidak terasa tahu² Lebaran lagi. Apa yang sudah saya perbuat dalam menjalani Ramadhan ini. Sudah optimal kah amal ibadah saya di bulan penuh berkah ini. Seberapa dermawan diri saya ini. Seberapa peduli diri ini kepada sesama. Apa yang bisa saya banggakan di umur saya ini ketika masih bisa bertemu Ramadhan dan entah tahun depan.

Pertanyaan inilah yang terbesit di kepala saat menyadari bahwa Ramadhan sudah di ujung jalan. Menunggu 11 purnama sehingga bisa berjumpa lagi. Insya allah.

Momen ini lah yang sepatutnya saya manfaatkan untuk meminta maaf dan tentunya memaafkan. Walaupun mudah diucapkan, memaafkan bukanlah perbuatan yang mudah dilakukan. Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa, karena di dalamnya ada keimanan, sikap sabar & syukur. Semoga dengan saling memaafkan membuat diri ini bisa menikmati indahnya hari kemenangan. Menjadi pribadi yang kembali fitri. Amin.

Taqaballalahuminnawa min kum siyamanna wasiya makum.
Minal aidin wal fa idzin.
Selamat idul fitri 1431 H
| 0 komentar |
Selasa, 27 Juli 2010 kemarin secara resmi saya mulai bergabung dengan dunia kerja yang baru. Allah pasti punya alasan tertentu yang perlu saya cerna mengapa saya diberi kesempatan untuk "belajar" (dibaca--bekerja) di sebuah sekolah dengan latar belakang akidah yang berbeda dengan saya.

Dan secara kebetulan, pertama kali saya menginjakkan kaki di lingkungan kerja baru ini saya langsung diundang untuk mengikuti semacam seminar bertemakan Pendidikan--yang memang diselenggarakan oleh pihak sekolah secara tentative--yang lokasinya ternyata di sebuah tempat peribadatan mereka. Saat undangan itu disampaikan, perang batin pun langsung terjadi di dalam diri saya.

Meski tanpa campur tangan lembaga perdamaian dunia, akhirnya perang batin itu pun berakhir tanpa ada turut campur lembaga perdamaian dunia, PBB. Saya memutuskan untuk menerima undangan tersebut, dan saya niatkan dalam diri saya undangan ini sebagai sarana bersosialisasi untuk mengenal orang-orang yang akan menjadi rekan kerja saya.

Di dalam ruangan itu (untungnya yang dipakai adalah ruang pertemuan, bukan tempat berdo'anya) saya tidak henti²nya istighfar, berdo'a memohon lindungan Allah. Dan Alhamdulillah materi yang disampaikan bersifat umum, yaitu tentang bagaimana menjadi guru yang baik. Namun, tetap sana nuansanya non-islamis. Dari pengalaman ini saya sadar, betapa saya sering lalai menghadiri suatu majelis ta'lim, dan tiba² saya kangen akan hal itu.

Dan sekarang pada saat bulan Ramadhan, suasana pun sangat berbeda yang saya rasakan dari Ramadhan² yang pernah saya alami sebelumnya. Meski bulan Ramadhan, tapi puasa yang saya jalankan seperti halnya melaksanakan puasa di bulan² biasa. Bukan masalah "kabita" oleh orang² yang makan minum di hadapan saya, melainkan atmosfirnya. Tidak ada pengurangan jam kerja atau pun libur ekstra. Tapi tidak mengapa, seperti yang saya bilang, Allah pasti punya alasan tertentu yang perlu saya cerna. Saat berpuasa ini saya lebih produktif, dan Insya Allah pahalanya lebih besar. Amin.

Menjadi orang yang minor dalam sebuah komunitas ternyata besar sekali manfaatnya. Di sini saya jadi termotivasi untuk banyak² lagi mempelajari Islam, dan berusaha terus memperbaiki diri sehingga senormal mungkin saya bisa menunjukkan kepribadian seorang muslim yang sesungguhnya. Muslim yang cinta sesama, cinta kedamaian, menghormati, bukan muslim yang sangar, muslim yang gampang marah, gampang mengobrak-abrik.

Allah Maha Mengetahui, untuk itu di mana pun, kapan pun, apa pun saya akan terus bersyukur, terus belajar, memetik hikmah di setiap momen hidup yang saya alami.
30 August 2010 | 0 komentar |
Bagaimana rasanya diwawancarai secara maraton dari pagi sampai sore oleh lima orang yang berbeda dengan pertanyaan yang itu-itu juga?

Jawabannya adalah lapar (karena tidak sempat makan siang) dan langsung panas dingin, atau dalam bahasa sunda salatri. :)

Pengalaman yang sangat terkesan pada saat testing penerimaan kerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta favorit di Bandung. Terlepas dari diterima atau tidaknya biar nanti saja ditunggu dengan sabar, setidaknya hari ini banyak sekali ilmu yang di dapat.

Meskipun acaranya bernama "interview", dimana yang menjadi nara sumbernya adalah saya sendiri--sebagai orang yang akan digali informasinya sehingga nanti akan diputuskan apakah saya layak diterima atau tidak--justru saya sendiri merasa saya lah yang mendaparkan informasi, karena dari interview ini saya banyak sekali belajar. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat, diantaranya mengenai pribadi saya sendiri, mengenai dunia pendidikan, mengenai guru, siswa, dll.

Manusia yang hebat adalah manusia yang senantiasa belajar, sehingga hari ini (24/07/2010) selalu lebih baik dari pada kemarin, dan besok akan menjadi lebih baik lagi dari pada hari ini, dan seterusnya. Ketika kita dihadapkan pada situasi apapun, anggaplah semuanya sebagai bahan untuk belajar, karena mutiara kehidupan itu akan sangat mudah kita dapatkan kapan saja, di mana saja, dan dari apa saja, asalkan hati serta pikiran kita terbuka.

Sekali lagi, terlepas dari diterimannya atau tidak, hari ini saya sudah banyak mendapatkan pelajaran. Kita tunggu saja pembuktian dari Allah, bahwa do'a yang mustajab salah satunya yaitu do'a yang dilakukan pada saat antara dua khutbah pada waktu ibadah solat jum'at. Dan do'a itu lah yang jum'at kemarin saya panjatkan. Namun bila kerjaannya tidak lolos, no problem, toh saya masih berkeyakinan bahwa Allah itu Maha Tahu mana yang terbaik buat saya. :)

Terakhir saya kutip lirik lagu ini:
Couse everything's gonna be Okey
25 July 2010 | 0 komentar |
Seorang pria pernah menyelamatkan nyawa seekor beruang, yang kemudian terus mengikutinya dan berterimakasih kepadanya atas apa yang telah dilakukannya.

Pria itu, karena kelelahan, berbaring untuk tidur, dengan beruang itu di sisinya.

Seorang pria lain lewat dan menyuruhnya agar berhati-hati, karena bersahabat dengan orang bodoh lebih buruk daripada bermusuhan dengannya.

Tetapi pria pertama menganggap pria kedua itu hanya iri kepadanya, dan tidak memperdulikan kata-katanya. Dia bahkan menganggap bahwa orang itu berusaha menjauhkannya dari keselamatan karena dijaga oleh kawan yang setia.

Namun, ketika dia tertidur pulas, beruang itu, saat melihat seekor lalat mendekat, berusaha melemparinya dengan batu, dan dengan perbuatannya itu dia membunuh pria yang telah menyelamatkan nyawanya.

Kisah ini diambil dari The Hundred Tales of Wisdom, karya Idris Shah, yang merupakan kumpulan kisah, legenda, anekdot, dan kearifan Jalaludin Rumi (1207-1273 M).

"Bersahabat dengan orang bodoh lebih buruk daripada bermusuhan dengannya", ini mungkin sedikit yang bisa saya tangkap dari kisah tersebut. Mengajarkan kita bagaimana seharusnya berteman. Jangan karena kita merasa nyaman, merasa terlindungi, merasa cocok dan lain sebagainya, kita malah terjerumus.

Jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan ikut bau, dan bila kita berteman dengan penjual parfum maka kita akan ikut harum. Namun, dengan siapapun kita berteman, jadilah seperti parfum yang selalu membawa keharuman kepada orang lain, membawa kepada kebaikan, memberikan manfaat, dan bukan sebaliknya.

So, mau jadi beruang, jadi temannya beruang, atau jadi pria satunya lagi yang lebih cerdas? :D
27 May 2010 | 0 komentar | Label: , , , , ,
"Every man dies, but not every man really lives" ~ Mel Gibson ~

"Every moman dies, but not every woman really lives" ~ arnov ~

"Every people dies, but not every people really lives" ~ Mel Gibson feat. arnov ~

Seperempat abad sudah saya habiskan waktu hidup di muka bumi ini, tapi saya masih mencari apa arti hidup. Gesang saja pada umur 23 tahun sudah menciptakan lagu Bengawan Solo. Kamana wae atuh jang...? Tapi lebih cocoknya bukan 'masih mencari', tapi 'meluruskan kembali arti kehidupan', yang selama ini masih zig-zag.

Lalu apa arti hidup itu sendiri? Menurut pelajaran biologi sendiri, sesuatu dikatakan hidup bila bernafas, bereproduksi, dan yang lainnya saya lupa. Tapi, saya ini manusia. Biasanya manusia melakuan kegiatan yang disebut hidup seperti ini: bangun, mandi, sarapan, bekerja, pulang, istirahat, tidur lagi, diantaranya diselingi interaksi antar sesama yang di dalamnya ada cinta, toleransi, komitmen, dan lain-lain yang dilakukan sepanjang hidupnya. Apakah cukup itu saja? Setelah tua, pagi-pagi baca koran, siangnya tidur lagi, dan seterusnya hingga menunggu ajal. Boleh lah tiap orang berbeda, tapi secara umum saya kira seperti itu.

Owhh, saya sendiri tidak ingin seperti itu. Harus ada sesuatu yang sangat berarti, minimal untuk saya sendiri yang harus saya lakukan agar saya benar-benar hidup. Benar sekali apa yang dikatakan Mel Gibson di atas, di filmnya Braveheart meskipun dia mati di tangan penjajah Ingris, tapi hidupnya benar-benar berarti dengan perjuangannya mempertahankan tanah Irlandia.

Dan apakah yang akan membuat saya benar-benar hidup? Menjadi tentara atau polisi kah agar bisa mengabdi pada negara? Hahaha, untuk menjadi tentara atau polisi itu butuh modal yang gede.

Mantapkan saja dalam diri, buat rencana yang jelas, dan do'a yang ikhlas agar semuanya lebih berarti.
19 May 2010 | 0 komentar |
"When I am down and all my soul so weary
When troubles come and my heart burdended be
Then I am still and wait here in the silence
Untill you come and sit awhile with me"

Tiba-tiba lagu ini muncul dari track winamp yang distel random. Lirik lagu yang dibawakan Josh Groban ini serasa pas banget. Yes, you've raise me up my friends. "Beruntung" saya memiliki sahabat yang selalu memberikan semangat, ada ketika dibutuhkan, saling berbagi.

Kenapa saya beri tanda kutip di kata "beruntung"? Karena menurut saya sendiri, tidak ada suatu keberuntungan di dunia ini. Semuanya butuh usaha. Ikatan persahabatan tidak muncul dari suatu keberuntungan atau bahkan ketidaksengajaan. Suatu ikatan, baik itu pertemanan, persahabatan, atau cinta, tumbuh dari suatu karakter yang dimiliki oleh seseorang. Suatu karakter muncul dari proses pembelajaran diri atas pribadinya (kecuali yang bermuka dua). Dari interaksinya, tiap orang saling mengamati karakter masing-masing orang yang ditemuinya, jika merasa cocok satu sama lain, maka muncul lah apa yang dinamakan toleransi, penerimaan, dan kepercayaan.

Baru saja juga saya selesai membaca novel "5 cm", novel yang sudah lama dibeli tapi terbengkalai begitu saja. Ada yang sangat menarik yang diceritakan di sana, yaitu mengenai persahabatan. Apa artinya persahabatan jika hanya digunakan untuk menghabiskan waktu, justru gunakan lah persahabatan itu untuk menghidupkan sang waktu. Bersama sahabat belajar mengenai arti kehidupan, bersama sahabat selalu mengingatkan untuk selalu bermimpi dan mempercayai mimpi tersebut dan terus mengejarnya. Ketika yang satu melenceng dari tracknya, yang lainnya mengingatkan. Bukan kah sebaik-baiknya sahabat adalah yang bermanfaat bagi sahabatnya?

Thanx my best friend... for U who read this, it's nice if U're to be the one..:)
| 0 komentar |
Judul ini saya baca dalam satu artikel pada harian The Jakarta Post. Yupz, "Who Will Police The Police?". Makin runyam saja sepertinya masalah di negara kita ini.

Siapa yang harus kita percaya sekarang ini? Susno Duaji atau POLRI? Saya sendiri, polisi yang paling saya percayai adalah Polisi Tidur. :D
16 May 2010 | 0 komentar |
"Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka."

Dari kecil saya sudah diajari do'a ini. Sudah berapa kali saya membaca do'a sapu jagad ini, sudah tidak terhitung lagi. Tapi apakah saya sudah bahagia? Di akhirat kelak? Wallahu'alam. Di dunia? Mungkin saya harus perjelas lagi makna kebahagiaan itu seperti apa.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan dalam notes ini? Saya sendiri juga bingung. Saya hanya masih terjaga di tengah malam, mendengarkan jam dinding yang berdetak seiiring dengan degup jantung, yang membuat dada terasa haru. Sampai saat ini saya masih diberi kesempatan hidup. Atas semua cobaan, ujian, rizki, sakit, sehat, merasa cukup, bokek dan lain sebagainya, tidak pernah ada kesia-siaan dalam hidup ini, asalkan kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Semuanya membuat saya lebih memahami warna-warna kehidupan. Bisa tersenyum mensyukuri apa yang telah Allah rencanakan.

Ini mungkin sedikit makna bahagia menurut saya.

*Hak cipta tidak dilindungi siapa pun. Dilarang membaca atau Anda ketagihan.
11 May 2010 | 0 komentar | Label: ,
Tentu saja jawaban dari pertanyaan ini tidak mungkin saya dapatkan dari orang yang sudah pernah mengalaminya. Entah kenapa, sewaktu sedang sakit tiba-tiba saja muncul pertanyaan tersebut di benak saya.

Apakah kematian saya nanti akan sangat damai ataukah sebaliknya menjadi sangat menyakitkan. Dengan amalah saya sekarang yang saya nilai masih pas-pasan bahkan mungkin kurang, apakah saya siap menghadapi kematian yang datangnya bisa kapan saja.

Dengan cara apakah saya akan mati. Apakah dengan penyakit, kecelakaan, karena umur yang sudah tua, terkena peluru nyasar, bunuh diri, keselek, dll.

Semoga dengan mengingat kematian ini, makin menambah keimanan saya. Dengan menganggap amalan saya masih pas-pasan ini bisa terus meningkatkan amalan-amalan saya. Dengan mengingat kematian yang datangnya tidak bisa diprediksi siapa pun, membuat saya terus mengingat Sang Pencipta saya. Dengan mengingat entah bagaimana cara saya nanti mati, membuat saya selalu berbuat hal-hal yang mulia. Amin
01 May 2010 | 0 komentar | Label: , ,
Kejadiannya terjadi dua minggu yang lalu. Seperti kebanyakan orang-orang jaman sekarang, bangun tidur yang pertama dilihatnya adalah handphone--entah melihat jam, mematikan alarm, atau penasaran dengan notification-nya facebook.

Saya sendiri melakukan ketiganya. Setelah melihat beberapa notification yang 'nggak penting, perhatian saya tertuju ke salah satu update status dari rekan saya:

*** MARAH MENYATUKAN SEGALA KEBURUKAN ****

Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Humaid bin 'Abdur Rahman dari seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam berkata: “Wahai Rasulullah! Berwasiatlah padaku”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Jangan marah". Orang itu berkata; Lalu aku berfikir saat Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam mengucapkan sabda itu, ternyata marah menyatukan seluruh keburukan.

(HR.Ahmad)


Beruntung sekali saya mempunyai teman di dunia maya yang menjadikan facebook sebagai media dakwah.

Setelah membaca hadits tersebut dan beberapa status-status lainnya, bukannya beranjak untuk solat subuh tapi saya malah ketiduran lagi. Dalam ketiduran ini lah saya mengalami mimpi yang luar biasa. Dalam mimpi itu saya seolah-olah berada dalam tempat atau ruangan di mana sabda tersebut diucapkan oleh Rasul. Saya bahkan melihat sosok Rasul meskipun samar-samar, hanya melihat dari samping dengan sorban dan jubah putih bercahaya. Subhanallah.

Segera setelahnya saya sadar bahwa saya baru saja bermimpi. Saya lihat ke celah-celah tirai jendela, hari sudah agak terang. Segera saja saya solat subuh yang memang sering kesiangan.

Beruntung sekali karena tidak semua orang mengalami kesempatan mimpi seperti saya. Tercatat yang orang-orang yang pernah bermimpi bertemu Rasul diantaranya Aa Gym, kalau begitu saya bisa disejajarkan dengan Aa Gym, mungkin lebih. Hehe.

Namun, benar atau tidaknya sosok Rasul yang saya temui dalam mimpi tersebut tidak ingin saya debatkan, karena hanya akan menghabiskan umur saja. Saya ambil pelajarannya saja, bahwa memang belakangan ini saya sering terbawa emosi. Mudah-mudahan hal ini bisa membuat saya lebih mencintai Allah dan Rasul, menambah keimanan dan ketakwaan saya, menjadikan diri lebih takut dan selalu merasa diawasi-Nya, dan mendapatkan syafa'at-Nya. Amin.
29 April 2010 | 0 komentar | Label: , ,
Ujian Nasional tiap tahun menjadi kontroversi. Di satu sisi Pendidikan Nasional harus mempunyai standar kelulusan yang baik, untuk mewujudkan salah satu tujuan negara yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa". Pertanyaannya adalah apakah dengan lulus UN bangsa ini sudah cukup cerdas? Karena di sisi lain, pelaksanaan UN ini dinilai tidak relevan dengan potensi masing-masing siswa, rawan ketidakjujuran, dan juga pemborosan biaya. Tapi itu kata pakar-pakar pendidikan atau juga pemerhati pendidikan.

Menurut saya sendiri, apa salahnya sih Ujian Nasional. Banyak sekali kekhawatiran baik dari siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan pemerintah sekalipun yang menyelenggarakannya.

Berhasil dan gagal adalah hal yang biasa. Apa yang harus ditakutkan. Nanti juga ketika siswa-siswa itu telah terjun ke lingkungan masyarakat mereka akan menemukan ujian yang sebenarnya. Masa iya 3 tahun belajar, tapi nilai 6 saja tidak bisa.

Sudah menjadi rahasia umum, di tiap pelaksanaan UN selalu ada saja bocoran. Gurunya sendiri berpendapat bahwa kalau tidak dibantu seperti itu, nanti banyak siswa yang tidak lulus, dan nanti sekolah yang malu. Saya jadi sedih. Zaman sekarang ini orang lebih malu untuk berbuat jujur dari pada berbuat curang. Kejujuran sudah menjadi barang yang langka.

Tapi untuk yang belum lulus UN, jangan terlalu bersedih, malu atau bahkan mencoba bunuh diri. Berhasil atau gagal sudah biasa. Berbuat tidak jujur lah yang jangan jadi kebiasaan. Jadikan sebagai pelajaran, belajar lebih giat lagi. Sudah menjadi pilihan dari siswa sendiri untuk masuk sekolah, jadi mereka harus ambil konsekuensinya, harus menguasai apa yang menjadi standar agar kamu bisa lulus dari sekolah itu.

Selain itu juga untuk yang belum lulus, nanti juga ada UN ulang. Yakinkan bisa lulus, toh nanti juga di ijazahnya tidak ada keterangan bahwa lulusnya di UN ulang...:D
28 April 2010 | 0 komentar | Label: , ,
Hari ini saya sedang merasa jenuh sejenuh-jenuhnya. Hari ini juga saya sedang benci dengan keadaan di sekeliling saya. Titik...

Malam semakin larut, tapi pikiran-pikiran ini terus berputar-putar di kepala, belum tahu arahnya akan ke mana.
Kadang termenung, kemudian segera kembali menuliskan apa yang terlintas di otak. Termenung lagi...

Manusia diciptakan oleh Allah dengan sempurna, berbeda dari makhluk Allah lainnya. Manusia memiliki akal dan pikiran. Syukur alhamdulillah saya diciptakan Allah sebagai manusia, yang saat ini penuh dengan pikiran yang sedang berputar-putar.
25 April 2010 | 0 komentar |
Kalau diliat-liat, sepertinya Bursa Tenaga Kerja itu diadakannya lebih dari satu kali per bulannya. Tadi siang saja saya lewat jalan Braga, di sana sudah ada lagi Bursa Tenaga Kerja.

Meskipun saya sendiri belum pernah masuk, tapi bisa saya pastikan tiap Bursa Tenaga Kerja diadakan, tidak pernah sepi pengunjung. Tempat parkir penuh, baik motor atau pun mobil, dan juga angkot yang berhenti sembarangan menurunkan calon pengunjung. Kenapa saya katakan calon pengunjung, soalnya dulu ada teman saya yang urung masuk ke Bursa Tenaga Kerja tersebut karena yang masuk harus bayar. Trus mau bayar gimana, kerja aja belum, ini malah disuruh bayar.

Menurut saya, Bursa Tenaga Kerja ini sangat baik untuk menuntaskan salah satu masalah di negara ini, yaitu pengangguran. Kalau Anda memang saat ini masih belum punya pekerjaan, silahkan saya sarankan boleh berkunjung ke sana. Ingat, bawa uang lebih. Jangan sayang kalau-kalau untuk masuk ke sana harus membayar tiket. Toh harga tiketnya pun tidak melebihi harga tiket bioskop yang nomat.

Kembali ke masalah penganggguran, saya sempat menganalisis, meskipun tanpa ada hitungan pasti. Kalau misalnya tiap kali masuk ke Bursa Tenaga Kerja dikenakan tarif Rp 10.000, kemudian rata-rata pengungunjung per harinya 200 orang, dan biasanya Bursa Tenaga kerja diselenggarakan selama seminggu penuh (7 hari). Anda boleh ikut menghitung, kurang lebih Panitia bisa meraup urang sebesar Rp 14.000.000.

Saya pikir ternyata Panitia pintar juga, orang yang nyatanya mencari kerja untuk mendapatkan uang, malah menjadi ide buat Panitia untuk mendapatkan uang. Bagi Panitia, penganguran itu menjadi komeditas. Dari sini saya ubah, ternyata pengangguran itu bukan masalah, tapi ternyata pengangguran itu sebuah peluang.

Oke kalau misalnya masuknya gratis. Perusahaan-perusahaan yang ikut memajang stan di Bursa Tenaga Kerja yang mereka adakan juga pasti tidak gratis. Selain itu, masih banyak orang-orang yang kecipratan untung dari "pengangguran" ini, misalnya tukang parkir, supir angkot, satpam, pedagang makanan dan minuman, dll.

Ternyata suatu masalah bagi orang lain, bisa menjadikan peluang. Tentu saja ini berlaku bagi orang yang berfikir kreatif, think out of the box. Mari kita berfikir...dan bertindak...


*Hak Cipta tidak dilindungi siapa pun. Dilarang membaca atau Anda ketagihan. :D
20 April 2010 | 0 komentar | Label: , , , , ,
Bank Century, Gurita Cikeas, Susno Duadji, dan masih banyak kasus-kasus lainnya yang tidak saya mengerti. Saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, atau justru mana yang salah dan mana yang dipersalahkan. Tapi yang saya yakini adalah ada suatu masalah di negara ini.

Hhhmmmnnnn,..

Jadi teringat satu iklan rokok yang slogannya bukan basa basi. Digambarkan ada tiga ikan yang dibungkus dengan rapat (mau ngebungkus aja pake rapat segala :p) hingga dari luar tidak akan jelas di dalam bungkusan itu apa. Namun, lama kelamaan bau ikan itu akhirnya tercium juga.

Ya, suatu kebohongan, dusta, penghianatan, dan ketidakjujuran lainnya, apapun itu, sebaik dan secanggih apapun penutupnya, tetap saja akan tercium juga. Kalau pun tidak dunia, pasti kelak di akhirat.

Pelajaran penting bagi saya, meskipun berasal dari iklan yang produknya konon menyebabkan gangguan kehamilan. :p

Semoga saya tetap dilindungi Allah dari perbuatan dusta, fitnah, khianat, dan sifat buruk lainnya. Amin.
26 March 2010 | 0 komentar |
Ini adalah suatu peribahasa yang artinya periksa diri sendiri dahulu sebelum mengkritik orang lain, atau bisa juga diartikan sebagai introspeksi.

Baru saja membuka kumpulan peribahasa di internet. Seingatku, dulu saat sekolah belum pernah menemukan peribahasa ini. Pasti karena dulu tidak punya buku kumpulan peribahasa, tapi yang jelas dulu internet belum selengkap sekarang.

Kembali ke peribahasa, "Cium tapak tangan, berbau atau tidak". Masalah introspeksi sepertinya harus menjadi hal sangat deperhatikan. Setidaknya untuk diri saya sendiri.

Kemarin dan hari-hari sebelumnya, seperti biasa untuk bepergian saya mengunakan sepeda motor (yang belum lunas :p). Di satu perumahan, tidak terlalu kencang saya mengendarainya, sampai di satu persimpangan tiba-tba muncul satu pengendara motor lain yang menyerobot dan hampir saja terjadi tabrakan.

Entah apa namanya, apakah etika berkendaraan atau memang ada peraturannya, jika ada kendaraan ingin berbelok/masuk ke jalur utama, seharusnya dia lihat dulu kiri kanan apakah ada kendaraan lain di jalur utama. Bila aman, silahkan boleh masuk. Atau bisa saja saya yang berhenti dan memberi jalan, bila setengah badan kendaraa sudah terlihat masuk.

Tapi anehnya, ketika itu malah orang yang salah yang marah-marah. Tidak habis pikir. Sekali lagi, dia yang salah langsung memeotong jalur, malah dia yang marah-marah.

Ini hanya salah satu kasus saja. Sebetulnya masih sering saya mengalami hal seperti ini, dia yang salah malah dia yang sewot.

Orang-orang sepertinya belum pernah mencium telapak tangannya sendiri, tidak semua orang memang, maksud saya adalah untuk orang-orang yang sewot tadi.

Lupa untuk introspeksi diri, apakah tindakannya sudah semestinya. Apakah perkataan sesuai dengan tindakannya. Masih banyak apakah-apakah lainnya...

Bagiku daripada memikirkan terus hal itu, lebih baik saya banyak-banyak istigfar saja. Introspeksi untuk diri sendiri, banyak-banyak mencium tangan sendiri.
24 March 2010 | 0 komentar |
Cuma mau ngetake judul aja, biar ga ada orang yang pake. Insya allah mau bikin novel dengan judul "Tunggu Aku di Kotamu Atas Nama-Nya". Targetnya mudah2n selesai dalam waktu 6 bulan ke depan...:)


21 January 2010 | 0 komentar |
Jangan kalah oleh perasaan, karena sebagian perasaan itu datangnya dari nafsu yang mengajak dosa...
21 December 2009 | 0 komentar |